Bagi aktivitas ekonomi, logistik punya peranan penting. Dengan prinsip biaya serendah-rendahnya dan tetap menjaga kualitas, logistik bertugas mengantarkan produk barang dan jasa, dari produsen ke konsumen. Jika tersendat, biaya pun naik. Barang atau jasa kurang kompetitif lagi.
Konsep logistik diambil dari kehidupan militer. Logistik awalnya dirancang untuk memenuhi segala persediaan militer sebelum berperang. Pada kekaisaran Yunani dan Romawi, sampai ada perwira militer dengan gelar "Logistikas".
Di Indonesia, biaya logistik cukup tinggi, yakni 17 persen dari total biaya produksi. Sementara di Malaysia 8 persen, Filipina 7 persen, dan Singapura 6 persen. Dari data National Logistics Cost tahun lalu, nilai bisnis logistik Indonesia diperkirakan Rp 1.402 triliun, atau 26 persen dari total PDB. Inventory carrying cost mencapai Rp 421 triliun, transportation cost Rp 841 triliun, dan biaya administrasi Rp 140 triliun. Semakin besar persentase biaya logistik terhadap PDB menunjukkan efisiensi logistik yang kian rendah.
Logistics Performance Index yang dirilis Bank Dunia menyebutkan kondisi logistik di Indonesia terus memburuk. Tahun 2007, Indonesia di peringkat ke-47, sementara tahun 2010 di urutan ke-75.
Bagi pelaku bisnis logistik, kondisi itu sangat merugikan. Akan ada biaya lebih dan perlu menekan margin keuntungan agar bisa bersaing. Padahal, prospek bisnis ini sangat menjanjikan. Asosiasi Perusahaan Jasa Ekspres Indonesia menyebutkan, tahun 2011 bisnis logistik diperkirakan Rp 9,9 triliun, tumbuh 10 persen dari tahun 2010.
Setidaknya ada tiga penyebab mahalnya biaya logistik. Pertama, buruknya infrastruktur dan sistem transportasi. Antrean panjang truk di Pelabuhan Merak menjadi contoh konkret. Kedua, regulasi yang terlalu banyak mengatur retribusi serta pungutan-pungutan liar. Ketiga, panjangnya mata rantai distribusi. Misalnya saja kontainer tujuan Eropa harus melalui Singapura atau Malaysia dulu.
Tanpa perhatian yang jelas, mahalnya biaya logistik akan menggerogoti daya saing nasional. Dalam laporan tahunan The Global Competitiveness Report 2011-2012, yang dirilis oleh World Economic Forum, Indonesia ada di urutan ke-46. Posisi tersebut merosot dari urutan ke-44 tahun 2010.
Saat Indonesia Logistics Summit di Jakarta pekan lalu, Wakil Presiden Boediono mengatakan, pemerintah siap membangun infrastruktur transportasi dengan memaksimalkan anggaran negara serta memaksimalkan peran badan usaha milik negara. BUMN bisa didorong untuk memaksimalkan kapasitas logistik. Kita tunggu saja realisasi dari solusi yang ditawarkan pemerintah tersebut. (ENY PRIHTIYANI)
Sumber: Kompas.com
